RSS

Cerita tentang Puisi Cinta

Papa. Bagiku adalah sosok yang kukenal pendiam, bicara ketika diperlukan, marah ketika memang dibutuhkan. Bagiku pula, tidak banyak kesempatan yang bisa kuperoleh untuk bisa mengenalnya. 14 tahun kehidupanku waktu itu, saat aku belum mampu memberi satu makna dalam hidup papa, Sang Khalik lebih mencintai hidupnya..

Saat itu, aku hanya sesekali menyeka  air mata di pelupuk mataku.  Apakah memang aku, seorang anak kecil yang sedang bertumbuh remaja tidak benar-benar ‘cinta‘ dengan ayahnya sendiri?? Ketika kakakku, beberapa kali pingsan hampir tak kuat menghantarkan papa ke tempat peristirahatan terakhirnya, tapi aku?? Aku tetap tercekat, sesekali tertunduk, bertanya dalam diriku sendiri, apakah aku merasa tidak kehilangan? tapi nyata-nyata aku kehilangan. Aku tanyakan lagi pada batinku, apakah aku tidak bersedih?? Aku merasa ada bagian yang hilang dalam hidupku, aku tahu aku tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan sosoknya, tapi tetap itu semua tidak membuatku menangis teraung-raung seperti beberapa kerabatku yang datang ke pemakaman.

Saat aku disibukkan dengan rentetan tentang meninggalnya papa, mataku sibuk mencari mamaku. Kutemukan mama, tersungkur manis di dalam kamar, memegang tasbih, terus berdzikir meminta kekuatan dari Sang Kuasa. Beribu lafaz Allah mengalun indah dari bibir mungilnya. Pikirku waktu itu: “betapa sedihnya pasti, kehilangan satu babak cerita yang selama ini bersama-sama mengarungi bahtera

Hari demi hari, kutapaki tumbuh sebagai remaja tanpa pantauan papa. Adakah sesuatu yang berbeda?? Sebelumnya tidak. Sampai aku menemukan beberapa buku, ato tepatnya diary. Diary yang selalu menemani hari-hari papa selama hidupnya. Diary yang punya ribuan kisah dalam hidupnya. Diary dengan segudang cerita dalam perjalanannya. Entah, apa yang mendorongku untuk membuka satu persatu diary yang terkumpul sejak tahun 1970an itu. Sebelumnya, aku minta ijin mama untuk membaca semua diary papa. Aku hanya ingin mengenal sosok papa yang selama ini aku tahu, bahwa jauh dalam dirinya, papa seorang yang amat romantis. Itu semua terlihat dari gaya papa bicara, terutama ada satu memori saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku duduk terkagum melihat papa pidato di depan sebuah forum. Di tengah-tengah pidatonya, beliau menyelipkan puisi cinta dan senandung lagu cinta tempo dulu yang menyayat hati. Batinku waktu itu: “Suatu saat aku ingin seperti papa… bisa bicara di forum dengan begitu kharismatiknya”.

Berminggu-minggu waktu itu, hampir setiap hari aku asik dengan dunia baruku. Membaca tulisan-tulisan papa. Tidak banyak cerita bersifat pribadi dalam bungkusan rapi tulisan latin kunonya. Diary-diary yang mulai lapuk & tua itu banyak berkisah melalui untaian puisi cinta. Barulah aku benar-benar menangis tersedu-sedu, beda jauh ketika papa meninggal. Saat aku membaca satu demi satu kalimat yang mengalir, aku benar-benar merasa ‘dekat’ dengannya, bulir-bulir air mata ini sering tak tertahankan ketika aku tahu bahwa rasa sayang & cinta papa yang selama ini tidak pernah secara eksplisit diungkapkan ke istri & anak-anaknya, ternyata mengalun begitu penuh cintanya dalam setiap puisi cintanya.

Ada beberapa puisi yang kuanggap spesial. Yaitu puisi ber’roh’kan cinta papa untuk mama. Puisi-puisi cinta ini bukan puisi ‘gombal’ yang hanya akan melekat sekejap saja untuk siapapun yang membacanya. Bukan pula puisi cinta anak-anak ABG jaman sekarang yang ngutip dari sajak pujangga ternama. Bukan pula puisi cinta yang sering didengungkan kaum yang dicap playboy, dengan rayuan maut yang memuakkan. Bukan teman, bukan puisi seperti itu. Sayang, aku tidak bisa membaginya disini, sayang puisi-puisi yang sudah kusalin ulang & kuprint, tidak terbawa olehku saat ini. Barisan puisi cinta itu masih ada di kamarku di Jogja, tempat aku tumbuh & belajar berpikir.

Tapi ada satu yang masih melekat dalam ingatanku tentang puisi cinta papa untuk mama. “Mawar” ato “Mawarku” adalah satu kata mesra yang senantiasa muncul dalam puisi cinta papa untuk mama. Puisi cinta yang berlandaskan pada cinta suci & tak pernah sekalipun ternodai. Kadang aku berpikir, pernahkan papa menunjukkan puisi-puisi cintanya itu langsung ke “mawarnya”. Ataukah kumpulan puisi cinta itu hanya berjajar saja di dalam diary-diary konvensionalnya?? Kadang aku membayangkan, mungkinkah papa pernah membacakan secara langsung puisi cinta itu untuk “mawar” terindahnya. Mengingat selama papa hidup, papa tidak pernah menunjukkan romantisme cinta yang berlebih ke mama, sekalipun hanya berupa ciuman di kening mama.

Puisi cinta yang masih kusimpan di kotak kecilku di Jogja, akan menjadi saksi betapa cintanya papa terhadap anak & istrinya. Meski itu semua tak sempat terucap secara verbal selama hidupnya. Biarkan puisi-puisi cinta itu mengalun merdu dan akan kuwariskan untuk anak-anakku kelak. Betapa bangganya aku, punya papa yang begitu hebatnya merangkai puisi cinta demi puisi cinta untuk orang-orang terkasihnya. Betapa bersyukurnya aku, masih diberi kesempatan untuk mengenal sosok papa meski hanya lewat puisi cintanya.. Miss u Pa…

Puisi Cinta untuk Para Penggores Sajak yang Tak Terungkapkan

Siapapun kau, pernahkah kau pendam rangkaian puisi cintamu begitu dalamnya, hingga hanya kau dan Tuhan yang tahu…

Siapapun kau, pernahkan kau ungkapkan sedikit saja puisi cintamu untuk kekasih hatimu, meski hanya sebaris kata…

Siapapun kau, tak inginkah kau melihat raut manis tersipu-sipu mendengar puisi cinta berbalut kemesraan lahir dari jari-jarimu & membasah indah lewat bibirmu…

Dimanapun kau, goresan puisi cintamu bisa menjadi obat ampuh hati yang luka dan jiwa yang membutuhkan kasih sayang..

Dimanapun kau, gumaman puisi cintamu yang hanya kau dengar sendiri, sejatinya angin akan menerbangkan & mengirimkan puisi cinta itu ke sanubari-sanubari yang bersembunyi..

Dimanapun kau, akan ada suatu masa dimana bumi akan menumpahkan puisi cinta yang pernah kau rajut dalam episode hidupmu..

Related Post


37 Comments Add Yours ↓

  1. 1

    Keren abiz..

  2. 2

    Banyak orang yang tidak bisa memperlihatkan cinta & kasih sayangnya secara verbal, namun hanya dipendam dalam hati saja melalui goresan2 pena. Karena itu juga terjadi padaku mbak..tp sayangnya puisiku tak sebagus puisi papanya mbk inna..
    Meski papa dah meninggal tapi doa anak saleh/a tak akan putus ditelan zaman..

  3. 3

    puisi yang bagus… keep posting

  4. Candy #
    4

    puisi yg sangat menyentuh hati….

    smangat ya….???
    qmu pzti bza sprti ayah mu…..

  5. 5

    sangat bagus puisinya menyentuh hati

  6. Budi #
    6

    cinta itu bodoh !!!

  7. maya #
    7

    betapa beruntungx orang yang mengenal cinta sejati.
    cinta tidak bisa diraba ataw di dipegang , melainkan cinta bisa di rasakan dengan sepenuh hati dengan tulus dalam hati kecil kita

  8. 8

    cinta kasih tak akan pudar.
    be happy.

  9. 9

    mbak….
    jadi ikutan sedih nich….
    Doain papa terus khan,mbak… Papa pasti bangga sekali punya putri sehebat mbak

  10. 10

    Bagus puisinya.

  11. 11

    sip, mantap gan puisiny

  12. 12

    Wah, sama ya, bokap juga suka nulis puisi jaman dulu

  13. 13

    apa kabar nih,,hhe,,

  14. 14

    dari dulu, ntah kenapa, gw ga pernah ngerti ama puisi ginian…

    cuma negor n ade post baru di blog ane

  15. 15

    wah papa idana seorang yg puitis ya..
    jadi terharu..pasti beliau sedang tenang disana krn punya putri yg selalu bisa dibanggakan :)

  16. 16

    duh jadi teringat bapa saya disana…banyak dosa jadinya

  17. 17

    duhh…puisinya sangat menyentuh

  18. 18

    aku jadi sedih…
    betapa beruntungnya kamu masih mengenal papa lewat puisi. karena ada banyak orang lain yang seberuntung itu

  19. 19

    aku menunggu puisi anak Papa,
    pasti, goresan penanya dari endapan hati lebih dahsyat :D

  20. 20

    apa kabar nih?hhe,,puisi nya dibaca berulang2 kaga bosen2 nih,,
    ikut 3rd IBSN Blog Award yuk,,daftarin aja artikelnya di sini,,pendaftaran kita tutp tanggal 25 maret jam 23.59,,
    keterangan lebih lanjut bisa diliat di sini,,dan syarat artikel bisa dibaca di sini,,
    IBSN,,berbagi,tak pernah rugi,,

    by, komporizer#6,,kahfinyster,, :D

  21. 21

    huuff…
    *menghela nafas panjang*

  22. 22

    puisinya bagus,,,jadi sedih :(

  23. 23

    puisinya keren,,dalem banget maknanya,,keren deh,,

  24. 24

    i am salut dengan puisi diatas…
    jadi kangen ma p2 n m2
    i miss u mom n fhat’…. love u

  25. 25

    Ada referensi untuk bercerita nih… ;-)

  26. 26

    banyak bercerita banyak yang dengerin.. pa lagi tentang cinta..

  27. 27

    saya salut dengan kepribadian bapak…
    puisi cinta,,,karena cinta,,,aku…

  28. 28

    terharu …

  29. 29

    pagi.., salam kenal dari BacaBlog :)
    lewat puisi, orang bisa menjadi lebih peka terhadap sesama :)

    [FRESH]
    mau blogwalking? mau baca posting terbaru dari blogger?
    atau.. mau kenalan, titip salam, dan lihat foto blogger lain? dateng aja ke http://bacablog.com

    ingin pemikiran Anda mengispirasi orang lain?
    atau.. meningkatkan pembaca dan link ke blog Anda?
    daftarkan blog Anda di http://bacablog.com

  30. nia #
    30

    puisi yang keren …

    tumpahan perasaan ..

    ===

  31. 31

    Puisi yang dalem banget, sekalipun kata-katanya sangat sederhana, tapi malah itulah yang jadi kekuatan dan nyawa utama dari puisi-puisi itu ..tulus, jujur dan apa adanya.. itu yang bisa aku liat.

  32. 32

    Aq seperti melihat diriku. Aq jg mengekspresikan perasaanku lwt puisi skalipun org yg aq inginkan utk tau itu sdh tiada kini.

  33. 33

    Wah, puisinya bagus banget… daleeeemm.. Alm Bokap juga pinter nulis, jangan2 bikin puisi juga ya.. Moga2 bokap kita berdua diterima disisiNYA ya nA.. amin.

  34. 34

    Bagus Na puisinya..jd ikud terharu..
    Pasti nggak gampang ditinggal seseorang yang setiap hari dekat dengan kita, dan orang yang kita sayangi, pasti berat banget..
    na..smangad ia..jangan sedih lagi..

  35. 35

    Puisi..

    Tentang Cinta…

    Hhhh…

    Hanya bisa membaca saja, saya kurang berjiwa seni..

    Hohoho…Salam Bocahbancar…

  36. 36

    satirr….

  37. 37

    turut berduka..
    puisinya bagus ;)


1 Trackbacks/Pingbacks

  1. ceria cabi » Blog Archive » Hari Gini Termehek-Mehek Karena Puisi Cinta??? 17 04 09

Your Comment






This site is protected by WP-CopyRightPro