Di jaman serba google ini, masih perlu gak sih Puisi Cinta? Untuk tujuan apa? Ya, untuk menggaet hati seseorang misalnya atau untuk mempertahankan keharmonisan sebuah hubungan baik itu pasangan yang sudah menikah maupun masih ‘anget-angetnya’ pacaran. Jaman-jaman ABG dulu, masa ‘berburu cinta monyet’ di era SMP-SMA, kok saya rajin bener ya nulis puisi cinta? Apa karena secara hormon juga sedang menggebu-gebunya, plus ada hasrat yang gak kesampaian? hihihiihihihii…

Beda sekali dengan setelah menikah, apalagi melahirkan. Wah, kok makin tidak produktif merangkai Puisi Cinta ya? Hmm, emang gak bakat jadi Kahlil Gibran kali ya? Apa emang sudah tidak memikirkan bahwa deretan kata-kata penuh buaian asmara itu perlu, secara udah dapet kan yang diinginkan, yang selama ini terpendam? :) Maybe yes, maybe no..

Saya teringat dengan salah satu temen saya yang sekarang menekuni profesi sebagai penulis. Dia pernah bilang sama saya, saat menulis dia selalu membutuhkan inspirasi, dan karena sebagian besar tulisannya tentang cinta, seringkali ia terjebak dalam cinta lokasi dengan nara sumber ‘inspirasi tulisan cintanya’. Karena setiap kali ia merasakan jatuh cinta, maka letupan-letupan ide akan mengalir dengan mudahnya. Nah, apakah ini berarti hanya untuk menulis puisi cinta, kita mesti jatuh cinta lagi?Cinta, seperti Erich Fromm ‘The Art 0f Loving’ bilang, adalah sebuah perasaan simpati yang melibatkan emosi mendalam. Bisa direlevansikan ketika kita mengalami gejolak cinta, perasaan jadi berbunga-bunga, senyum-senyum sendiri pas baca-baca SMS ‘yayang’, mendadak jago menulis puisi cinta, atau hafal lagu-lagu bernafaskan cinta.

Sempet nih, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa ponakan saya yang sedang tumbuh remaja. Mereka bilang puisi cinta itu gombal banget. Malah, mereka dan temen-temen sebayanya rata-rata anti banget sama cowok yang terbilang piawai membuat puisi cinta. Bahkan ponakan-ponakan saya itu mengaku, gak mudeng alias gak mudeng ama isi dari puisi cinta. “Mendingan to the poin aja kalo bilang cinta, gak perlu pake puisi-puisi segala, bikin pusing bacanya”, begitu kurang lebih kata ponakan saya.

Hmm.. hmm.. hmm… Apa karena generasi sekarang, rata-rata generasi serba instan & praktis ya, sampe-sampe memahami puisi cinta yang menurut generasi saya itu amat sangat luar biasa, justru jadi satu hal yang dianggap ‘gombal’ saat ini. What do you think guys? Puisi cinta = Gombal?

Related Post